Rabu, 28 Desember 2016

Teruslah Memberi

Apa yang diingat dari pemberian kita? Bukan tentang jumlah materinya, tapi tentang tauladannya, tentang amalannya, tentang manfaatnya yang perlu kita ingat dan jadikan motivasi
Buat sesuatu yang baik, ajarkan tentang kebaikan, karena Tuhan akan tersenyum dan menjanjikan keindahan saat hambaNya berbuat baik
How-Can-Help-728x546.jpg

Megono : Mergo.. Ono.. (Karena ada)

Apa sih Megono itu? 
Menikmati-Sedapnya-Nasi-Megono-Kuliner-Khas-Pekalongan
Nasi megono adalah makanan khas dari daerah pantura Jawa Tengah bagian barat. Makanan ini biasa ditemukan dan sangat familiar di daerah Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kabupaten Batang, sampai Kabupaten Pemalang.
Meskipun lebih identik dengan daerah Kabupaten Pekalongan, tepatnya di daerah Batang di sini hampir sepanjang jalan terdapat warung lesehan sego megono, karena makanan ini paling banyak ditemukan di warung-warung sepanjang jalan di Pekalongan. Nasi Megono terdiri atas nasi yang di atasnya diberikan cacahan nangka muda yang dicampur dengan parutan kelapa beserta bumbu-bumbu lainnya. Nasi megono biasa disajikan dengan mendoan yaitu tempe goreng tipis bertepung yang setengah matang. (Sumber Wikipedia)
Megono berasal dari mergo yang artinya sebab dan ono yang artinya ada (sumber Wikipedia, dan ceritanya papa)
Pada dasarnya, kuliner adalah identifikasi tentang bagaimana dan apa budaya makan tertentu yang berlaku di suatu daerah, dari cara makan dan penyajianpun ada yang berbeda. Walaupun sudah ada peralatan modern tidaklah mengubah pola makan yang sudah ada terkecuali menyesuaikan adat setempat. Bahkan di Indonesia juga makan ada kobokannya!
Di dalam nasi megono, ada banyak kisah yang tersaji. Cerita gembira, keluh kesah, curahan hati dan sebagainya. Namun apakah kita menyadari bahwa di dalam nasi megono itu ada sebuah kebersamaan yang hangat? Orang jawa sangat menjunjung tinggi rasa sosialisasi di atas segala-galanya. Masyarakat jawa mempunyai tradisi etiket makan yang dilakukan dengan cara duduk bersama-sama di dalam suatu ruangan atau tempat yang telah ditentukan. Ewoh pekewoh, kalau belum ada yang mulai makan ya saling menunggu, dan pasti ada yang memastikan bahwa semuanya sudah makan.
Tulisan ini isinya bukan asal mula nasi megono kok… hehehe sorry ya lha wong aku iseh enom, aku dudu ahli sejarah..
Tahu gak tahun 2013 lalu Jambi dan Palembang ribut gara-gara pempek? Sampai gubernurpun turun tangan. Tradisi minum teh aja dari Tiongkok tapi sampai Tegal jadi beda kok. Jangan karena perut kosong, kantong bolong, pikiran blong dan hati kita jadi “kobong” (terbakar-red)
Megono itu punya masyarakat kita, mau batang, pekalongan, pemalang, banjarnegara bahkan wonosobo pun punya. Jadi kuliner sebagai aset persatuan, mari kita jaga persaudaraan.
Oh megono, mergo sego ono tresno…. Selamat istirahat lads!

AYO TINGGALKAN MENTAL GRATISAN!

Hallo lads, di sini gue menulis bukan sebagai salah satu pendukung parpol atau tokoh politik, tapi gue di sini sebagai warga negara Indonesia yang harus sadar untuk maju membangun Indonesia! Gue ingin ngajak kalian untuk meresapi makna #revolusimental yang saat ini dicanangkan pemerintah kita. Mari kita ambil sisi positif dan kita hiraukan saja suara-suara negatif yang terdengar.

Menurut kalian, apasih #revolusimental itu? Sudahkah kita berevolusi untuk jadi lebih baik? Salah satunya mental yang harus kita bangun adalah mental pejuang dan buang jauh-jauh mental-mental ngemis!
Siapa sih yang menolak pemberian orang lain? Apalagi gratis heuheuheu… Boleh dapat gratisan? Silahkan saja, tapi bukan berarti kita menikmati dan kemudian menjadi “mental gratisan”. Sekaya apapun seseorang akan tetap senang jika mendapatkan hadiah atau bonus tanpa keluar daya dan biaya. Benerkan?
Yups, that’s right beibeh… Namun kita harus mampu membedakan antara “senang jika dapat sesuatu secara gratis” dengan “sikap mental gratisan”. Pahami perbedaannya, misalkan, dapat beasiswa sekolah atau kuliah gratis dengan syarat harus punya prestasi yang baik. Setelah itu, kita kembalikan beasiswa itu lewat hal lain, yang jadi dokter karena beasiswa, kelak jadilah dokter berdedikasi penuh, bertanggung jawab dengan waktu dan menyenangkan pasien, yang jadi insinyur, perawat, bidan, apapun studinya dari beasiswa maka tekunilah profesi tersebut. Kembalikan "gratisan" itu ke masyarakat dengan pelayanan yang baik dan mengesankan. Semakin banyak kebaikan yang diberikan kepada kita, pantulkan kembali menjadi kebaikan bagi orang lain.
Terus, apa sih mental gratisan itu? Mental yang maunya gratis melulu. Mau ilmu pengetahuan, tapi malas berkorban, waktu, tenaga, uang, malas sekali dilakukan. Mau sesuatu, mau ini-itu, tapi malas sekali mengeluarkan sumber daya, maunya gratis, gratis dan gratis. Lebih serius lagi, sudah dapat gratisan, tapi nggak paham-paham juga kalau itu gratis, maka jangankan berterima-kasih, dia malah nyolot, emosi, kurang ajar ke orang yang memberi segala sesuatu secara gratis. Bahkan kadang lebih galak dibandingkan yang tangannya di atas!
Sikap mental gratisan bermula dari perasaan selalu kekurangan atau menikmati dan mencoba mencari sesuatu dengan gratis bahkan instan. Pada dasarnya perilaku yang muncul karena individu merasa punya banyak kekurangan dan kelemahan. Orang yang memiliki masalah ini cenderung menerapkan pola pikir “Aku pantas dapat bantuan karena aku pantas dibantu”, sehingga nantinya akan muncul perilaku menuntut agar diberi fasilitas khusus termasuk yang gratis-gratis, lebih bahayanya lagi individu akan berusaha berbohong dan merubah kondisi yang memungkinkan untuk mendapat bantuan. Yang bermental gratisan ini, mereka tidak pernah berfikir tentang manfaat yang didapat walaupun mereka mengeluarkan biaya yang cukup besar, biasanya kasus ini terjadi bagi para pebisnis.
Seperti yang gue sampaikan diatas, efek dari mental gratisan yang berkembang semakin parah akan menjadi kecenderungan marah dan menuding negatif pihak-pihak lain yang tidak memberikan apa yang mereka inginkan (individu merasa layak mendapatkannya).
Memiliki mental gratisan nggak akan pernah membuat kamu sukses, bahkan setiap hari mendapatkan “sesuatu” secara gratispun. Sia-sialah potensi yang loe miliki. Tuhan mengajarkan kita bahwa “Tangan diatas, jauh lebih baik daripada tangan dibawah”. jadilah orang yang suka memberi, bukan menerima. Jika sekarang kita posisinya memang masih menerima, pastikan besok lusa kita mau mengembalikannya ke orang lain dengan cara apapun yang tersedia.
Sudah jadi rahasia umum bahwa sebagian masyarakat kita masih bermental gratisan. Gue sendiri juga banyak mendapatkan hal-hal yang gratis kok, tapi gue coba buat nggak jadi orang yang bermental minta-minta. 
MARI BERKARYA, JANGAN BERHARAP PADA NEGARA! Salam Sukses!