Breaking News

Rabu, 28 Desember 2016

AYO TINGGALKAN MENTAL GRATISAN!

Hallo lads, di sini gue menulis bukan sebagai salah satu pendukung parpol atau tokoh politik, tapi gue di sini sebagai warga negara Indonesia yang harus sadar untuk maju membangun Indonesia! Gue ingin ngajak kalian untuk meresapi makna #revolusimental yang saat ini dicanangkan pemerintah kita. Mari kita ambil sisi positif dan kita hiraukan saja suara-suara negatif yang terdengar.

Menurut kalian, apasih #revolusimental itu? Sudahkah kita berevolusi untuk jadi lebih baik? Salah satunya mental yang harus kita bangun adalah mental pejuang dan buang jauh-jauh mental-mental ngemis!
Siapa sih yang menolak pemberian orang lain? Apalagi gratis heuheuheu… Boleh dapat gratisan? Silahkan saja, tapi bukan berarti kita menikmati dan kemudian menjadi “mental gratisan”. Sekaya apapun seseorang akan tetap senang jika mendapatkan hadiah atau bonus tanpa keluar daya dan biaya. Benerkan?
Yups, that’s right beibeh… Namun kita harus mampu membedakan antara “senang jika dapat sesuatu secara gratis” dengan “sikap mental gratisan”. Pahami perbedaannya, misalkan, dapat beasiswa sekolah atau kuliah gratis dengan syarat harus punya prestasi yang baik. Setelah itu, kita kembalikan beasiswa itu lewat hal lain, yang jadi dokter karena beasiswa, kelak jadilah dokter berdedikasi penuh, bertanggung jawab dengan waktu dan menyenangkan pasien, yang jadi insinyur, perawat, bidan, apapun studinya dari beasiswa maka tekunilah profesi tersebut. Kembalikan "gratisan" itu ke masyarakat dengan pelayanan yang baik dan mengesankan. Semakin banyak kebaikan yang diberikan kepada kita, pantulkan kembali menjadi kebaikan bagi orang lain.
Terus, apa sih mental gratisan itu? Mental yang maunya gratis melulu. Mau ilmu pengetahuan, tapi malas berkorban, waktu, tenaga, uang, malas sekali dilakukan. Mau sesuatu, mau ini-itu, tapi malas sekali mengeluarkan sumber daya, maunya gratis, gratis dan gratis. Lebih serius lagi, sudah dapat gratisan, tapi nggak paham-paham juga kalau itu gratis, maka jangankan berterima-kasih, dia malah nyolot, emosi, kurang ajar ke orang yang memberi segala sesuatu secara gratis. Bahkan kadang lebih galak dibandingkan yang tangannya di atas!
Sikap mental gratisan bermula dari perasaan selalu kekurangan atau menikmati dan mencoba mencari sesuatu dengan gratis bahkan instan. Pada dasarnya perilaku yang muncul karena individu merasa punya banyak kekurangan dan kelemahan. Orang yang memiliki masalah ini cenderung menerapkan pola pikir “Aku pantas dapat bantuan karena aku pantas dibantu”, sehingga nantinya akan muncul perilaku menuntut agar diberi fasilitas khusus termasuk yang gratis-gratis, lebih bahayanya lagi individu akan berusaha berbohong dan merubah kondisi yang memungkinkan untuk mendapat bantuan. Yang bermental gratisan ini, mereka tidak pernah berfikir tentang manfaat yang didapat walaupun mereka mengeluarkan biaya yang cukup besar, biasanya kasus ini terjadi bagi para pebisnis.
Seperti yang gue sampaikan diatas, efek dari mental gratisan yang berkembang semakin parah akan menjadi kecenderungan marah dan menuding negatif pihak-pihak lain yang tidak memberikan apa yang mereka inginkan (individu merasa layak mendapatkannya).
Memiliki mental gratisan nggak akan pernah membuat kamu sukses, bahkan setiap hari mendapatkan “sesuatu” secara gratispun. Sia-sialah potensi yang loe miliki. Tuhan mengajarkan kita bahwa “Tangan diatas, jauh lebih baik daripada tangan dibawah”. jadilah orang yang suka memberi, bukan menerima. Jika sekarang kita posisinya memang masih menerima, pastikan besok lusa kita mau mengembalikannya ke orang lain dengan cara apapun yang tersedia.
Sudah jadi rahasia umum bahwa sebagian masyarakat kita masih bermental gratisan. Gue sendiri juga banyak mendapatkan hal-hal yang gratis kok, tapi gue coba buat nggak jadi orang yang bermental minta-minta. 
MARI BERKARYA, JANGAN BERHARAP PADA NEGARA! Salam Sukses!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By